( +62) 222 7612 165 info@shariagreenland.com

Sebagian besar lajang mungkin membayangkan kehidupan rumah tangga setelah menikah serba indah. Kita bisa shalat berjamaah dengan pasangan tercinta, memasak bersama disertai canda tawa, atau berjalan bersama ke tempat yang telah lama diidam-idamkan. Tidak ada yang salah dengan angan-angan seperti itu. Justru sudah selayaknya kita berdoa untuk bisa membangun rumah tangga yang bahagia nan indah.

Kehidupan Rumah Tangga Tidak Selamanya Manis

Terlepas status Anda apakah masih lajang atau sudah menjalani kehidupan rumah tangga, gambaran pahit seputar keseharian berumah tangga patut diketahui dan dipelajari. Karena tidak sedikit para gadis yang memiliki ekspektasi tinggi bahwa saat memasuki dunia rumah tangga kondisi finansial telah stabil dan serba berkecukupan. Ataupun jejaka yang membayangkan pasangannya sebagai istri salehah yang bisa memberikan ketenangan lahir dan batin.

Baca juga: Siap Menghadapi Ujian Pernikahan 5 Tahun Pertama untuk Menuju Keluarga Samawa

Cara berpikir praktis seperti itu berpotensi untuk menggerus perasaan qana’ah atau syukur menerima secara segala ketetapan Allah SWT. Hal ini seringkali terjadi pada pasangan pengantin yang baru menginjak beberapa bulan pernikahan. Jika pasangan tersebut tidak mampu melewati ujian ini, maka ada kemungkinan usia pernikahan mereka tidak akan berlangsung lama.

 

Persiapkan Mental untuk Menghadapi Kondisi Terburuk

Tips Sukses Membangun Rumah Tangga

Mengenai urusan rumah tangga, sudah selayaknya suami istri menyadari bahwa membangun keluarga yang stabil dan harmonis harus mampu melewati proses panjang yang penuh godaan. Sangat penting bagi kita untuk mempersiapkan diri dalam keadaan kondisi terburuk sekalipun.

Berikut ada beberapa contoh kesiapan mental saat memasuki rumah tangga:

  1. Saya siap menghadapi resiko tinggal terlebih dahulu di rumah mertua jika kondisi mengharuskan demikian.
  2. Jika menumpang di rumah mertua tidak memungkinkan, saya siap menanggung beban finansial dengan mengontrak rumah.
  3. Saya harus belajar bersabar menunda keinginan, karena pernikahan berarti menyatukan beragam kebutuhan, sehingga tidak bisa egois hanya memenuhi kebutuhan pribadi saja.
  4. Saat saya atau istri saya hamil, kondisi finansial belum tentu stabil dan berkecukupan, sehingga tidak boleh emosi ketika menyiapkan perlengkapan bayi. Saya harus bisa memilah antara kebutuhan dan keinginan.
  5. Saat menjelang kelahiran saya harus siap menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Jika kelahiran berjalan dengan normal dan lancar maka saya sangat bersyukur. Namun jika kondisi mengharuskan operasi kelahiran, maka harus bisa berpikir ekstra supaya kebutuhan tersebut bisa terpenuhi.

Saat kita belajar menyikapi kondisi yang pahit, insyaAllah hati bisa menjadi lebih lunak dan lapang dalam menerima keadaan. Keyakinan akan janji Allah akan semakin terpatri dalam hati,

Al Insyirah setelah kesulitan ada kemudahan

 

Saat kita berusaha menjadi sosok yang dewasa dalam menyikapi keadaan, setiap babak kehidupan akan mudah dilalui dengan sikap sabar dan logis. Semua fase kehidupan rumah tangga akan disikapi dengan wajar, tidak lebay, kesal, atau rasa kaget yang berlebihan.

Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk bersikap bijak dalam menyikapi setiap momen yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Aamiin…

Baca juga: Sabar dan Syukur, Pondasi Membangun Keluarga Islami

Silahkan isi kolom komentar jika ada masukan dan saran yang membangun. Jangan lupa share jika tulisan ini bermanfaat. Terima kasih.