( +62) 222 7612 165 info@shariagreenland.com

      Pahala dari jihad adalah puncak dari segala kenikmatan, yaitu jannah (surga). Setiap orang yang beriman akan berusaha untuk mencapainya. Namun, bagaimana dengan seorang istri, terlebih lagi jika ia berstatus sebagai ibu rumah tangga?

      Pahala Jihad itu Sangat Menggiurkan

      Ada banyak sekali keterangan dalam Al-Quran ataupun hadis mengenai perintah untuk berjihad. Misalnya saja pada surat Al Baqarah ayat 218,

      ayat Jihadnya Para Istri Dalam Rumah Al Baqarah 218

      Dari ayat di atas terlihat bahwa ada tiga hal penting untuk mendapatkan rahmat dari Allah, yaitu iman, hijrah, dan berjihad di jalan Allah. Khusus untuk untuk jihad, saking mulianya perbuatan ini, Allah sampai menawarkan jual beli yang sangat menguntungkan. Kita diberi kesempatan untuk “membeli” surga dengan melakukan jihad.

      ayat Jihadnya Para Istri Dalam Rumah Attaubah 111

       Baca juga: 5 Langkah Sederhana Membangun Keluarga Sakinah

       

      Jihadnya Para Istri

      Saking menggiurkannya, banyak muslim yang berlomba-lomba untuk meraih pahala dalam berjihad. Bahkan pada zaman Rasulullah, ibu-ibu pun tak mau ketinggalan ingin mengikuti “ajang prestisius” itu. Hanya saja para ibu-ibu merasakan adanya kekurang-adilan dalam pengaturan jihad. Kurang adil di sebelah mana?

      Rupanya hal yang menjadi ganjalan bagi para ibu kala itu adalah kaum lelaki memiliki keleluasaan untuk berjihad, sedangkan kaum wanita tidak demikian.

      Saat orang yang berjihad terluka, maka ia akan memperoleh pahala yang besar. Jika terbunuh, ia akan berada di sisi Allah dengan berbagai kenikmatan yang diberikan kepadanya. Sedangkan bagi kaum wanita harus tinggal di rumah. Lantas apa yang bisa dilakukan kaum wanita untuk bisa mendapatkan keutamaan jihad dijalan Allah?

      Untuk menjawab kegelisahan tersebut, Allah mengutus seorang wanita yang berani menyampaikan segala unek-unek yang mereka simpan. Ia menemui Rasulullah sambil berkata’ “Wahai Rasulullah, aku adalah utusan kaum perempuan kepadamu.” Lalu ia menyebutkan berbagai keuntungan yang diperoleh kaum laki-laki yang pergi berjihad, seperti mendapatkan pahala yang besar dan rampasan perang yang banyak. Lalu ia bertanya, “Lalu apa yang kami peroleh dari semua itu?”

      Rasulullah SAW lalu bersabda:

      hadis Jihadnya Para Istri Dalam Rumah ath thabrani

      Terlihat dengan jelas betapa indah dan adilnya peraturan hidup yang ditetapkan oleh islam. Jihadnya para laki-laki atau suami adalah turun ke medan juang. Sedangkan jihadnya para istri adalah menaati suami serta mengakui hak-hak yang dimilikinya.

      Maka itu duhai para istri, sikap taat kepada seorang suami adalah salah satu ciri calon penghuni surga. Karena Allah menjanjikan derajat pahala menaati suami setara dengan pahala jihad di medan perang. Maka akankah kita akan mengecilkan makna indahnya aturan yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan?

       Baca juga: 9 “Pintu” Ini Terbuka, Untuk Kita Bisa Masuk Surga Bersama Keluarga

       

      Tantangan yang Harus Dihadapi Oleh Seorang Istri

      Ada redaksi kalimat yang menarik di dalam hadis di atas, “Namun, sedikit sekali di antara kalian yang mampu melakukannya”. Hal ini menunjukan bahwa menaati seorang suami adalah satu peluang sekaligus tantangan bagi seorang istri untuk memasuki surga.

      Terlihat sederhana, namun tidak mudah dilakukan, karena nyatanya banyak yang “tidak mampu melakukannya”. Maka maksimalkan peluang tersebut dengan disertai sikap sabar dan ikhlas dalam menghadapi berbagai skenario yang telah Allah tetapkan. Berpeganglah pada janji Allah,

      ayat Jihadnya Para Istri Dalam Rumah Al Baqarah 216

      Wahai para istri, semoga kita termasuk kepada golongan hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur atas segala karunia dan rahmat-Nya. Semoga kita tidak termasuk kepada golongan orang-orang yang kufur nikmat.

      Baca juga: 4 Tips Mewujudkan Rumahku Surgaku

      Mari kita gapai indahnya surga dengan menjalankan amal saleh di dalam rumah. Sertakan sabar dan ikhlas dalam menjalankan jihad ini. Taat pada suami selagi ia masih berpegang pada syariat yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Wallahu A’lam