( +62) 222 7612 165 info@shariagreenland.com

Al-Qur’an mengklasifikasikan tetangga menjadi dua macam; tetangga dekat (al-jar dzi al-qurba) dan tetangga jauh (al-jar al-junubiy). Klasifikasi ini disebutkan di dalam surat An Nisa; 36. Allah SWT. berfirman:

Qur'an Surat An Nisa 36 Tentang Tetangga

Tetangga Dekat dan Tetangga Jauh

Menurut Imam Qurthubiy, yang dimaksud dengan “al-jar dzi al-qurba” adalah tetanngga dekat (“al-qarib). sedangkan al-jar al-junubiy adalah tetangga jauh (asing) (al-gharib da al-bu’ud (jauh)). Makna semacam ini adalah makna literal dan pendapat yang dipegang oleh Ibnu ‘Abbas (Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, An Nisa: 36).

Al-A’masy dan al-Mufadlal membaca ayat di atas dengan al-jar al-janbiy (dengan jim di fathah dan nun disukun). Secara bahasa, dua bacaan itu bisa dibenarkan (junub dan janb). Dikatakan oleh orang Arab, “junub, janb, ajnab, ajnabiy, yakni ketika diantara kedua orang itu tidak ada hubungan kekerabatan. Bentuk jamaknya ajaanib. Dikatakan pula bahwa frasa itu, ada “mudlaf” yang dihilangkan, yakni “dziy”, (bila ditulis secara sempurna) frasa itu berbunyi “al-jar dzi al-junubiy” (Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, Al-Nisa :36).

Imam Syaukani dalam Fath al-Qadir menyatakan, bahwa sebagian ulama menafsirkan tetangga dekat; tetangga yang memiliki kedekatan dari sisi nasab sedangkan tetangga jauh adalah kebalikannya, yakni tetangga yang tidak memiliki hubungan nasab (Imam Syaukani, Fath al-Qadir, lihat juga Imam Nasafy, Tafsir Nasafy, Surat Al-Nisa; 36)

Menurut Ali bin Abi Thalhah dari sahabat Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud dengan tetangga dekat adalah tetangga yang diantara Anda dan dirinya terdapat hubungan kekerabatan dan kedekatan (qurabah). Sedangkan tetangga jauh yaitu tetangga yang tidak ada hubungan kekerabatan dan kedekatan. Pendapat semacam ini juga dipegang oleh Ikrimah, Mujahid, Maimun bin Mahraan, dan al-Dlahak, menurut Zaid bin Aslam, Muqatil bin Hayan, dan Qatadah. (Lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, surat Al-Nisa:36)

Menurut Abu Ishaq dari Nauf al-Bakaaliy, yang dimaksud dengan tetangga dekat adalah Muslim, sedangkan tetangga jauha dalah Yahudi dan Nashrani. Dengan kata lain, tetangga dekat kita adalah Muslim sedangkan tetangga jauh adalah tetangga yang beragama Yahudi dan Nashrani (Lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, surat al-Nisa’: 36). Pendapat semacam ini juga dipegang oleh Nauf al-Syamiy. Beliau berkata, “yang dimaksud dengan tetangga dekat adlah Muslim; sedangkan tetangga jauh adalah Yahudi dan Nashraniy, “ (Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, surat al-Nisa’: 36)

Ulama – ulama lain mengaitkan kata “jauh dan dekat” dengan jarak, bukan dengan sifat – sifat tertentu.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah, bahwa ‘Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah:

hadits tentang tetangga

 

Sekelompok ‘ulama menganggap hadits ini sebagai tafsir atas firman Allah SWT., surat Al-Nisa’: 36. Menurut mereka, yang dimaksud dengan tetangga dekat adalah tetangga yang jarak rumahnya paling dekat. Sedangkan tetangga jauh adalah tetangga yang jarak rumahnya paling jauh. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan jaraknya.

Menurut Al-Auza’iy tetangga dekat adalah tetangga yang jarak rumahnya kira – kira 40 rumah, dari arah depan, belakang, sisi kanan dan sisi kiri. Diriwayatkan dalam riwayat, ada seorang laki – laki mendatangi Rasulullah SAW., dan berkata:

“Saya adalah laki – laki yang tinggal di sebuah kampung. Sedangkan tetanggaku yang paling dekat sering menyakitiku. “Rasulullah SAW. segera mengutus Abu Bakar, Umar dan ‘Ali untuk bersuara lantang di depan pintu – pintu masjid: “Perhatikan, jarak 40 rumah adalah tetangga, dan tidak akan masuk surga siapa saja yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, surat al-Nisa’:36)

Ali bin Abi Tahlib berkata, “ Siapa saja yang mendengar panggilan adalah tetangga.” Beberapa ulama berpendapat, bahwa siapa saja yang mendengar iqamah, maka ia adlaah tetangga masjid tersebut. Sebagian lagi menyatakan, bahwa siapa saja yang tinggal sekampung atau sekota, maka ia adalah tetangga. (Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, Surat an Nisaa’[4]: 36).

Tetangga yang paling jauh, sebagaimana pendapat al-Zuhri adalah tetangga yang jaraknya lebih dari 40 rumah (Ibnu al-’Arabiy. Ahkam al-Qur’an, Juz 1, hal.547). Imam Bukhari menuturkan sebuah atsar dari Walid bin Dinar dari Hasan:

hadits tentang tetangga

Tetangga dekat harus diutamakan dalam hal pemberian daripada tetangga yang jauh. Ketetapan ini didasarkan pada sebuah riwayat yang dituturkan oleh ‘Aisyah, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah:hadits tentang tetangga

 

Daftar Pustaka

Syamsuddin Ramadlan an-Nawiy, Fathiy (2018). Fiqih Bertetangga. Bogor: Al Azhar Fresh Zone Publishing.