{"id":5228,"date":"2019-12-03T12:00:31","date_gmt":"2019-12-03T05:00:31","guid":{"rendered":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/?p=5228"},"modified":"2021-09-21T14:31:44","modified_gmt":"2021-09-21T07:31:44","slug":"adab-menerima-tamu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/","title":{"rendered":"Fiqih Bertetangga : Adab Menerima Tamu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jika seseorang kedatangan tamu, baik <a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/fiqih-bertetangga\/\">tetangga dekat maupun tetangga jauh<\/a>, hendaknya ia mengijinkan masuk ke dalam rumah. (Dengan menerapkan adab menerima tamu yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. tentunya) Sekiranya dirinya tidak berkenan, ia bisa meminta tamunya untuk datang di lain waktu dengan cara yang baik, tidak terkesan menghinakan atau merendahkan. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, bahwa Ibnu \u2018Umar berkata:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5244 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hadits ini berisi celaan terhadap siapa saja yang enggan membukakan pintu untuk tetangganya, serta tidak mau bersedekah kepada tetangganya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang Muslim wajib memuliakan dan menghormati tamu, menunaikan hak-haknya, dan memberikan pelayanan terbaik bagi tamunya. Dalam banyak hadits dituturkan, bahwa seorang Muslim wajib memuliakan, menghormati, dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi tamunya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Abu Hurairah ra meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda:\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5231 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-2.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Abu Syuraih al Adawiy berkata:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5232 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-3.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Masih banyak riwayat &#8211; riwayat lain yang menuturkan tentang kewajiban untuk memuliakan dan menghormati tamu.<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Adab Menerima Tamu<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun adab -adab dan ketentuan &#8211; ketentuan melayani tamu dapat diringkas sebagai berikut.<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">1. Mendengarkan dan Menjawab Salam Dengan Muka yang Ceria<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Adab menerima tamu<\/em> yang pertama adalah mendengarkan dan menjawab salam. Jika tamu mengucapkan salam, tuan rumah hendaknya membalas salam, dan segera menyongsong sang tamu di depan rumahnya. Apabila, ia berkenan memberikan ijin karena alasan &#8211; alasan tertentu, hendaknya ia menyampaikan permintaan maaf dan meminta tamunya untuk datang di waktu yang lain.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah menemui \u2018Abdullah ibn Umar di suatu majelis, dan ia berkata, \u201cJika engkau diberi salam, maka dengarkanlah karena itu adalah ucapan sambutan dari Allah SWT. yang membawa berkah dan kebaikan.\u201d (HR. Imam Bukhari dalam al-Adab al-Munfrad)<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Abu Hurairah berkata:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5233 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-4.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Termasuk akhlak terpuji, jika seseorang diberi, ia membalasnya dengan ucapan salam yang lebih baik. Salim, budaknya Abdullah bin \u2018Amru berkata:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibnu \u2018Amru jika diberi salam dia menjawabnya dan menambahnya. Pernah dia diketemui ketika dia sedang duduk, lalu kukatakan, \u201cAssalamu\u2019alaikum.\u201d Dia menjawab, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum warahmatullah.&#8221; Lalu pada saat yang lain kutemui dia dan kukatakan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum warahmatullah.&#8221; Dia menjawab, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum warahmatullah wa barakatuh.&#8221; Lalu ia aku temui pada saat yang lain, dan kukatakan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum warahmatullah wabarakatuh.&#8221; Dia menjawab, \u201cAssalamu\u2019alaikum warahmatullah wa barakatuh wa thayyibun shalawatuh.\u201d (HR. Imam Bukhari).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\"># Orang yang Enggan Membalas Salam Termasuk Perbuatan Tercela<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, orang yang enggan membalas ucapan salam dari saudaranya digolongkan dalam barisan orang &#8211; orang bakhil dan berakhlaq rendah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Abu Hurairah berkata:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang paling bakhil adalah orang yang pelit memberi salam. Sedangkan orang yang tertipu adalah orang yang tidak mau menjawab salam. Jika antara kamu dan temanmu terpisah oleh suatu pohon, jika engkau mampu memberinya salam terlebih dahulu, maka lakukanlah (HR. Imam Bukhari).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Abdullah bin Shamit berkata:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah berkata kepada Abu Dzar, \u201cSaya pernah lewat di depan \u2018Abdurrahman bin Umm Hakam, lalu dia kuberi salam, tetapi dia tida membalasnya. Lantas, aku katakan kepadanya, \u201cWahai saudaraku, apa ruginya hal itu bagimu, engkau dijawab oleh yang lebhi baik darimu, malaikat di sebelah kananmu.\u201d (HR. Imam Bukhari).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Abdullah bin Mas\u2019ud berkata:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Salam adalah salah satu dari Asma Allah, Allah SWT. meletakkan salam di muka bumi, maka sebarkanlah ia diantara kalian. Sesungguhnya, seorang laki &#8211; laki jika memberi salam kepada suatu kaum, lalu mereka menjawabnya maka mereka mendapatkan fadilah satu derajat, karena dia menyebut mereka dengan salam. Jika dia tidak dijawab, maka akan dijawab oleh yang lebih baik daripada mereka (HR. Imam Bukhari dalam al-Adab al-Munfrad).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dari Al-Hasan dituturkan bahwasannya ia berkata:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Memberi salam adalah sunnah, sedangkan menjawabnya adalah fardlu (wajib) (HR. Imam Bukhari dalam Al-Adab Al-Munfrad).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Abdullah bin \u2018Amr ibn al-\u2019Ash berkata:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang suka berbohong adalah orang yang suka berbohong dengan sumpahnya dan orang yang bakhil adalah orang yang bakhil dari memberi salam, sedangkan orang uang suka mencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya (HR. Imam Bukhari).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dari seluruh riwayat di atas dapat disimpulkan bahwa menjawab salam hukumnya fardlu, dan salam tamu harus dijawab. Tetapi, setelah menjawab salam tamunya, bukan berarti ia harus mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah. Tuan rumah boleh mempersilahkan tamunya masuk atau meminta tamunya untuk kembali pulang.<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">2. Berjabat Tangan<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Adab menerima tamu<\/em> yang kedua adalah berjabat tangan dengan tamu. Disunnahkan bagi orang &#8211; orang yang bertemu atau bertamu untuk saling berjabat tangan. Al-Barra\u2019 ra meriwayatkan suatu hadits yang menyatakan, bahwa Rasulullah SAW. bersabda:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidaklah dua orang Islam bertemu lalu berjabat tangan, kecuali dosa kedua orang itu diampuni seeblum keduanya berpisah (HR. Imam Abu Dawud).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dari Anas ra dituturkan, bahwa Rasulullah SAW. pernah ditanya oleh seseorang:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5234 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-5.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Qatadah yang menyatakan, bahwa ia berkata:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5235 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-6.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">3. Menyambut Kedatangan Tamu dengan Hangat<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Adab menerima tamu<\/em> yang ketiga adalah menyambut kedatangan tamu dengan hangat Bila tuan rumah melihat kehadiran tamunya, ia disunnahkan menyambutnya dengan hangat (tersenyum), menciumnya ataupun memeluknya.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/hutang-piutang-dengan-tetangga\/\">Fiqih Bertetangga: Hutang Piutang Dengan Tetangga<\/a><\/strong><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dari \u2018Aisyah ra diriwayatkan, bahwasannya, ia berkata:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Zaid bin Haritsah datang ke Madinah dan Rasulullah SAW. sedang berada di rumahku (\u2018Aisyah), kemudian ia datang dan mengetuk pintu. Lantas, Nabi SAW. bangkit dalam keadaan telanjang (maksudnya bagian atas pusatnya tidak tertutup kain, karena selendang beliau terjatuh) yang mana kain selendang Belaiu terjatuh, demi Allah, aku (\u2018Aisyah) tidak pernah melihat beliau SAW. telanjang sebelum dan sesudahnya. Lalu, beliau memeluk dan menciumnya (Zaid bin Haritsah ra) (HR. Imam Tirmidziy).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jarir bin \u2018Abdillah berkata:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak pernah melihat Rasulullah SAW. melarangku masuk ke dalam rumahnya (ketika Beliau SAW. ada di rumah) sejak aku masuk Islam, dan tidaklah Beliau SAW. melihatku kecuali dia selalu tersenyum (HR. Imam Bukhari).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dari \u2018Aisyah ra. dituturkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5236 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-7.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"806\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tatkala Jabir bin Abdullah mendengar sebuah hadits berasal dari salah seorang shahabat Rasulullah SAW., ia berkata:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5237 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-8.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"806\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hendaknya seseorang tidak meremehkan suatu kebaikan, meskipun hanya dengan memberi senyuman dan sambutan yang hangat. Dari Abu Dzarr ra dikisahkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda kepadanya:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5238 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-9.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">4. Menjamu Tamu<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Adab menerima tamu<\/em> yang keempat adalah menjamu tamu dengan baik, sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah SAW. dalam suatu haditsnya:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5239 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-10.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu \" width=\"1600\" height=\"1059\" \/><\/a><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\"># Menjamu Tamu Selama Tiga Hari<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Melayani dan menjamu tamu itu selama tiga hari, selebihnya adalah shadaqah. Tuan rumah harus melayani dan menjamu tamunya selama tiga hari. Jika tamunya menginap lebih dari tiga hari, maka disunnahkan untuk tetap melayani dan menjamunya, dan apa yang diberikan kepada tamunya terhitung sebagai sedekah. Dalam Hadits shahih dituturkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, jamuannya satu hari satu malam, dan melayani tamu itu tiga hari,d an setelah itu adalah sedekah. Tidak halal bagi tamu menginap hingga ia menyulitkan (tuan rumah) (HR. Imam Bukhari dari Syuraih al-Ka\u2019biy).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam riwayat lain disebutkan:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Jamuan itu selama tiga hari, dan jamuan setelah itu adalah sedekah (HR. Imam Bukhari dalam al-Adab al-Munfrad, dari Abu Hurairah ra).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jika seorang tamu tidak mendapatkan jamuan apa &#8211; apa, maka berdasarkan sebuah hadits shahih, ia boleh mengambil haknya kepada tuan rumah secukupnya saja. Imam Bukhari mengeluarkan sebuah riwayat dari \u2018Uqbah bin Amir, bahwasannya Rasulullah SAW. bersabda:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5266 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-11-1.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5241 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-12.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam riwayat Muslim dinyatakan, \u201cSeorang Muslim tidak boleh tinggal di tempat saudaranya sampai menyebabkan saudaranya itu berdosa.\u201d Para shahabat bertanya, \u201cWahai Rasulullah, bagaimana ia sampai menyebabkan saudaranya itu berdosa?\u201d Beliau bersabda, \u201cia tingga di tempat saudaranya, sedangkan saudaranya tidak mempunyai hidangan yang bisa disuguhkan.\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hendaknya tuan rumah menyiapkan kamar khusus untuk tamu. Ini ditujukan agar tamu bisa menikmati privasinya tanpa harus mengganggu keluarga tuan rumah. Disamping itu, adanya kamar khusus bagi tamu yang terpisah dari ruang keluarga, akan menjaga pandangan anggota keluarga dan tamu. Jika tamu hendak istirahat alangkah baiknya, tuan rumah menyediakan makanan kecil, ataupun minuman ringan bagi tamu di kamar tamu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sahl bin Sa\u2019ad berkata:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Abu Usaid al-Sa\u2019diy mengundang Rasulullah SAW. dalam pesta pernikahannya, dimana calon isterinya adalah para pembantu para shahabat, padahal saat itu dia adalah pengantinnya sendiri. Wanita itu lalu berkata, \u201cApakah kalian tahu, apa yang diberikannya pada Rasulullah SAW.?\u201d Dia memberi Beliau di malam hari dengan buah korma dalam cawan kecil.\u201d (HR. Imam Bukhari dalam al-Adab al-Munfrad).<\/span><\/p><\/blockquote>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">5. Memuliakan Hak Tamu Selagi Mampu<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Adab menerima tamu<\/em> yang kelima adalah memuliakan hak tamu. Jika seorang tamu datang ke rumahnya karena ada keperluan tertentu, misalnya perlu bantuan finansial, meminta fatwa atau nasehat, dan sebagainya, hendaknya tuan rumah berusaha keras untuk memenuhinya. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih &#8211; lebih lagi, jika tamu tersebut adlah musafir, atau ibnu sabil yang membutuhkan tempat untuk bermalam. Musafir yang tidak mendapatkan tempat bermalam, kemudian ia berada di halaman rumah seseorang, maka pemilik halaman itu wajib menolongnya dan mengijinkan musafir tersebut untuk bermalam di rumahnya. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Miqdam Ubay bin Abu Karimah al-Syami, bahwasannya Rasulullah SAW. Bersabda:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5242 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-13.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sesorang yang dimintai saudara muslimnya untuk memenuhi hajatnya, maka orang tersebut wajib menunaikan hajat saudaranya tanpa ada alasan yang jelas dan syar\u2019iy, maka ia\u00a0 berdosa di sisi Allah SWT.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Abu Hurairah ra, berkata, \u201cRasulullah SAW. Bersabda:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/adab-menerima-tamu\/\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5243 aligncenter size-full\" src=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hadits-tentang-menerima-tamu-14.jpg\" alt=\"hadits tentang menerima tamu\" width=\"1600\" height=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Para \u2018ulama salaf hampir &#8211; hampir tidak pernah menolak jika dimintai bantuan oleh kamum Muslim yang lain. Mereka berusaha dengan keras membantu meringankan beban penderitaan orang lain, serta memenuhi hajat kehidupan mereka. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seandainya sesorang hendak berhutang, sedangkan dirinya tidak memiliki uang yang cukup, ia tidak hanya tinggal diam saja. Ia turut membantu dengan cara menghubungkannya dengan saudara Muslim lain yang memiliki finansial yang berlebih. Ia tidak mencukupkan diri dengan mengatakan, saya tidak punya uang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, sejak ideologi kapitalisme diterapkan di tengah &#8211; tengah kaum Muslim, banyak tradisi Islam yang tersningkirkan dari kehidupan. Hedonisme, individualisme, kensumerisme, permisivisme dan sebagainya telah menjauhkan kaum Muslim dari ajaran &#8211; ajaran Islam yang mulia. Mereka disibukkan dengan urusannya masing &#8211; masing dan seakan &#8211; akan menutup mata atas penderitaan kaum Muslim yang lain. Akibatnya, sendi &#8211; sendi ta\u2019awuniyyah menjadi ringkih dan rapuh. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kehidupan bertetangga, bermasyarakat dan berkeluarga tidak lagi nyaman. Yang tersisa hanyalah perasaan yang kering dan kososng, jauh dari nilai &#8211; nilai keutamaan. Akhirnya, kehidupan masyarakat tergelincir dalam jurang kehinaan dan kehancuran. Semua ini disebabkan karena, kaum Muslim tidak memperhatikan lagi tuntunan Islam, akan tetapi malah melarikan diri pada pranata sekuler yang sejatinya justri telah memerosokan mereka ke dalam lembah kenistaan kehinaan.<\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/akibat-ghibah\/\">Inilah 4 Akibat Ghibah Bagi Kehidupan Bertetangga<\/a><\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Daftar Pustaka<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syamsuddin Ramadlan an-Nawiy, Fathiy (2018). Fiqih Bertetangga. Bogor: Al Azhar Fresh Zone Publishing.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika seseorang kedatangan tamu, hendaknya ia mengijinkan masuk ke dalam rumah dan menerapkan adab menerima tamu yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12098,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"chat","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","_gspb_post_css":"","_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","footnotes":""},"categories":[10,15],"tags":[34,36,245,261],"acf":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":10,"label":"Rumahku Surgaku"},{"value":15,"label":"Akhlak"}],"post_tag":[{"value":34,"label":"adab bertamu dan menerima tamu"},{"value":36,"label":"adab menerima tamu"},{"value":245,"label":"fiqih bertetangga"},{"value":261,"label":"hadits tentang menerima tamu"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Adab-Menerima-Tamu-2-1024x706.jpg",1024,706,true],"author_info":{"display_name":"Hasannudin","author_link":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/author\/hasannudin\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":10,"name":"Rumahku Surgaku","slug":"rumahku-surgaku","term_group":0,"term_taxonomy_id":10,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":274,"filter":"raw","cat_ID":10,"category_count":274,"category_description":"","cat_name":"Rumahku Surgaku","category_nicename":"rumahku-surgaku","category_parent":0},{"term_id":15,"name":"Akhlak","slug":"akhlak","term_group":0,"term_taxonomy_id":15,"taxonomy":"category","description":"Baik tidaknya seseorang bisa dilihat dari akhlaknya. Akhlak melekat pada diri seseorang ketika melakukan suatu perbuatan.","parent":0,"count":27,"filter":"raw","cat_ID":15,"category_count":27,"category_description":"Baik tidaknya seseorang bisa dilihat dari akhlaknya. Akhlak melekat pada diri seseorang ketika melakukan suatu perbuatan.","cat_name":"Akhlak","category_nicename":"akhlak","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":34,"name":"adab bertamu dan menerima tamu","slug":"adab-bertamu-dan-menerima-tamu","term_group":0,"term_taxonomy_id":34,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":2,"filter":"raw"},{"term_id":36,"name":"adab menerima tamu","slug":"adab-menerima-tamu","term_group":0,"term_taxonomy_id":36,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":2,"filter":"raw"},{"term_id":245,"name":"fiqih bertetangga","slug":"fiqih-bertetangga","term_group":0,"term_taxonomy_id":245,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":5,"filter":"raw"},{"term_id":261,"name":"hadits tentang menerima tamu","slug":"hadits-tentang-menerima-tamu","term_group":0,"term_taxonomy_id":261,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5228"}],"collection":[{"href":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5228"}],"version-history":[{"count":17,"href":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5228\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13511,"href":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5228\/revisions\/13511"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12098"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5228"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5228"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/shariagreenland.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5228"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}